Pada desa Songowareng dilaksanakan dalam rangka sebagai wujud rasa

Pada saat manusia
menghidangkan sesaji menurut Robertson Smith (dalam Koentjaraningrat,1990:68) memiliki
fungsi sebagai aktivitas untuk mendorong rasa solidaritas dengan para dewa. Pendapat senada dikemukakan Endraswara (2014:247) sesaji
merupakan aktualisasi dari pikiran,
keinginan, dan perasaan pelaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sesaji juga merupakan  wacana simbol yang
digunakan  sebagai srana negosiasi
spiritual kepada al-hal ghaib. Hal ini dilakukan agar makhluk-mkhluk halus di
atas kekuatan manusia tidak mengganggu. Dengan pemberian makan secara simbolis
kepada roh halus, diharapkan roh tersebut akan jinak, dan mau
membantu hidup manusia.

Selamatan atau
wilujengan merupakan upacara pokok atau
terpenting dalam hampir semua kegiatan ritus
dan upacara dalam sistem religi orang
Jawa pada umumnya dan penganut Agami Jawi
khususnya seperti yang telah dinyatakan juga oleh  Geertz (1960: 11-15,
30-37). Walaupun Geertz juga menyebutkan adanya suatu aktivitas keagamaan lain
dalam sistem Agami Jawi yaitu kunjungan ke makam nenek moyang dan makam-makam
suci pada umumnya (pundhen).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 Tradisi
nyadran
bumi  di desa Songowareng, Kecamatan Bluluk,
Kabupaten Lamongan merupakan warisan leluhur yang keberadaanya sampai sekarang
masih tetap dilestarikan masyarakat setempat. Berdasarkan hasil observasi  dan wawancara awal dihasilkan temuan sebagai
berikut. Pertama, tradisi nyadran
bumi di desa Songowareng ini tidak sama dengan tradisi bersih desa sebagaimana
yang ada di  desa-desa se kecamatan dan
kabupaten Lamongan, termasuk dengan yang ada di kota-kota lainnya. Mengapa
demikian, karena tradisi nyadran bumi di desa Songowareng dilaksanakan dalam
rangka sebagai  wujud rasa syukur atas
rejeki yang telah diberikan berupa keberhasilan dalam panen padi.  Kalau bersih desa itu merupakan kegiatan
selamatan yang ditujukan untuk membersihkan desa dari segala bentuk mara
bahaya. Kedua, tradisi nyadran bumi
di desa Songowareng dilaksanakan sekali dalam setahun setelah musim panen padi,
dengan menggunakan pedoman hitungan Jawa untuk menentukan hari pelaksanaannya.
Untuk tanggal dan bulannya  mengacu pada
kalender masehi. Ketiga, kegiatan tradisi
selamatan nyadran bumi di desa Songowareng dilaksanakan  selama dua hari  dua malam di dua tempat yang berbeda yaitu di
sendang dengan berdiri. Untuk hari Sabtu Pon dilaksanakan di dusun Songo
tempatnya di sendang Lanang, sedangkan hari Ngat Wage dilaksanakan di dusun
Balongrejo tempatnya di sendang wadon.  Keempat, selama berlangsung acara
tradisi selamatan nyadran bumi bentuk permainan judi termasuk salah satunya
judi dadu othok bebas, termasuk orang bebas menjual minum-minuman beralkohol. Kelima, dalam acara tradisi selamatan
nyadran bumi di desa Songowareng  wajib
dibunyikan tujuh gending pusaka secara berurutan tidak boleh dibolak-balik
urutan penempatanya.

Tradisi selamatan nyadran bumi di
desa Songowareng sebagai
upacara adat memiliki makna spiritual di baliknya. Pertama, nyadran bumi bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas rejeki yang didapat dari
hasil  panen padi.Kedua,, memohon berkat agar hasil panen berikutnya
melimpah. Ketiga,
memuat tujuan solidaritas di dalamnya, dimana biaya dalam acara nyadran bumi ditanggung bersama oleh warga masyarakat. Keempat,
sebagai bentuk amal dengan mengeluarkan rejeki yang diperoleh dalam bentuk
membuat ambeng untuk dimakan bersama.

Acara tradisi selamatan nyadran bumi di desa
Songowareng dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap
pelaksanaan. Untuk tahap persiapan diawali dengan pembentukan panitia nyadran
bumi melalui musyawarah yang dilaksanakan satu bulan sebelum acara di mulai di
rumah Kepala Dusun. Selanjunya, dua minggu sebelum acara dimulai dilakukan
kegiatan pengurasan dan pembersihan sendang oleh warga masyarakat . Kegiatan
terakhir pembersihan makam leluhur yang dilaksanakan sehari sebelum acara
dimulai.

Selanjutnya, dalam  tahap 
pelaksanaan warga masyarakat desa Songowareng menyelenggarakan acara selamatan
di sendang dan hiburan kesenian tayub. Dalam acara selamatan warga masyarakat
diminta untuk membawa ambeng. Masing-masing ambeng  biayanya
ditanggung
bersama 3- 4
(empat) orang mewakili 
kepala keluarga. Adapun yang membedakan ambeng  milik perangkat desa dengan masyarakat adalah
kalau ambeng yang dibuat perangkat desa harus ada ingkungnya dan semua biaya
pembuatanya sepenuhnya ditanggung sendiri oleh perangkat desa.

 Apabila
uborampe  ambeng berupa nasi putih, ingkung, lauk pauk dan jajar pasar sudah siap kemudian  ditaruh di amben  dan
setelah mendengar bunyi kenthongan, ambeng dibawa warga masyarakat ke sendang
dengan cara dipikul untuk dibuat selamatan. Setelah ambeng yang dibawa warga masyarakat dengan cara dipikul sudah
sampai di sendang, acara diawali dengan kegiatan menaru cok bakal oleh kepala
dusun di tempat yang dianggap memiliki kekuatan ghaib yaitu di batu Lingga dan Yoni  dekat sendang. Kemudian
acara dilanjutkan  dengan do’a bersama.
Fenomena yang cukup menarik dan selalu dilakukan oleh semua warga yang ikut
acara selamatan di sendang, do’a belum selesai dibacakan, semua warga
berdesak-desakan  saling berebut makanan
sehingga banyak makanan yang terbuang dan tercecer di tanah. Kejadian seperti
ini memang tidak bisa dihapus bahkan warga masyarakat tetap mempertahankannya
karena merupakan kebiasaan para leluhur sebelumnya yang tetap dilestarikann
sampai sekarang dan memiliki makna bagi warga masyarakat.

Setelah acara selamatan di sendang selesai dilanjutkan
dengan hiburan kesenian tayub sebagai kesenian utama yang diiringi dengan tujuh  gending
pusaka yang wajib dibunyikan secara berurutan mulai gending
eling-eling, gending rangu-rangu, gending gonggo mino, gending genderuwo momong,
gending celeng mogok, gending bondo boyo dan gending angkleng. Dikatakan
sebagai gending pusaka karena gending-gending tersebut memiliki makna dan memberi
petuah bagi warga masyaraat setempat. Apabila ada satu
gending yang tidak dibunyikan atau urutannya tidak sesuai dengan pakemnya baik sengaja maupun tidak disengaja,
maka harus
diulang kembali mengingat menurut kepercayaan masyarakat setempat bila tidak di
ulang akan  menimbulkan musibah.Inilah keunikan dari tradisi nyadran bumi yang tidak
dimiliki oleh desa-desa lainnya di Kabupaten Lamongan.

Dengan mendasarkan
diri pada pembahasan awal di atas peneliti memandang perlu melakukan penelitian
tentang Tradisi Nyadran Bumi (Studi Etnografi  Makna Simbolik
Tradisi Nyadran Bumi  di Desa
Songowareng, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan).